Tampilkan postingan dengan label Serang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Desember 2009

Danau Tasikardi

Danau tasikardi terletak sekitar 10 km dari pusat kota Serang. Ada dua rute yang dapat anda lalui menuju Tasikardi. Rute pertama melalui Jl. Banten Lama, melewati Pelabuhan Karang Antu, Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokitesvara. Rute kedua dari kota Serang anda mengambil arah menuju kota Cilegon. Di kota kecamatan Kramatwatu anda dapat mengambil arah ke utara (belok kanan) menuju danau Tasikardi. Untuk anda yang senang berpetualang dengan menggunakan sepeda, dapat mengikuti Jalur Pipa Gas (JPG) dari Kota Serang sampai ke Kecamatan Kramatwatu.
Danau Tasikardi terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu,
Kabupaten Serang.

Kata Tasikardi merupakan gabungan dua suku kata dari bahasa Sunda,
yaitu tasik dan ardi yang artinya danau buatan. Menurut sejarahnya,
danau tersebut dibuat pada masa pemerintahan Panembahan
Maulana Yusuf (1570-1580 M), sultan kedua Kesultanan Banten. Konon,
danau yang luasnya mencapai 5 hektar dan bagian dasarnya dilapisi dengan
ubin batu bata ini, dahulunya, merupakan tempat peristirahatan
sultan-sultan Banten bersama keluarganya.

Pada masa itu, danau yang juga dikenal dengan Situ Kardi ini memiliki
fungsi ganda. Selain sebagai penampung air dari Sungai Cibanten yang
digunakan untuk mengairi areal persawahan, danau ini juga dimanfaatkan
untuk memenuhi pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat
sekitarnya. Air Danau Tasikardi dialirkan ke Keraton Surosowon melalui
pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat berdiameter 2-40 sentimeter.
Sebelum digunakan, air danau tersebut terlebih dahulu disaring dan
diendapkan di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan
pengindelan abang (penyaringan merah), pengindelan putih
(penyaringan putih), dan pengindelan emas (penyaringan emas).

Dewasa ini, Danau Tasikardi, bersama Masjid Agung Banten
, Keraton Surosowon, Keraton Kaibon, Pasar Lama Serang, Benteng Speelwijk, dan Vihara Avalokitesvara, masuk dalam Situs Banten Lama. Keberadaan situs-situs
yang berada di Kabupaten Serang tersebut, selain menjadi saksi bisu
tentang kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lampau, juga
merupakan tempat tujuan wisata sejarah yang mengasyikkan. Para pengelola
biro perjalanan wisata pun telah mengemas situs-situs tersebut dalam
satu paket wisata khusus, yaitu Kawasan Wisata Banten Lama.

Mengunjungi Danau Tasikardi yang konon tidak pernah kering dan tidak
pernah meluap ini terbilang istimewa. Karena dengan mengunjungi danau
tersebut, berarti telah mengunjungi situs sejarah dan sekaligus obyek wisata
yang memesona. Sebagai situs sejarah, keberadaan
danau ini adalah bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada
masa lalu. Untuk ukuran saat itu, membuat waduk atau danau buatan untuk
mengairi areal pertanian dan memenuhi kebutuhan pasokan air bagi
penduduk merupakan terobosan yang cemerlang.

Ditengah danau terdapat sebuah pulau yang dahulunya merupakan
tempat rekreasi keluarga kesultanan. Untuk
mencapai pulau seluas 44 x 44 meter persegi yang berjarak sekitar 200
meter dari bibir danau ini, wisatawan dapat menyewa perahu. Di pulau
tersebut, masih dapat dilihat sisa-sisa peninggalan Kesultanan Banten,
seperti kolam penampungan air, pendopo, dan kamar mandi keluarga
kesultanan. Juga terdapat jungkit-jungkitan, semacam tempat permainan
untuk anak-anak yang terbuat dari besi panjang, yang terletak di samping
pendopo.

Jelang matahari terbenam, eksotisme danau yang menjadi saksi bisu
tentang kegemilangan Banten pada masa lalu. Burung-burung kecil yang
terbang rendah di tepi danau dan sesekali menyambar air danau, kian mengukuhkan betapa spesialnya Tasikardi ini.


(Yusriandi Pagarah/wm/55/07-08)

Sabtu, 12 Desember 2009

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (MS

Terletak di Banten Lama, kurang lebih 10 km utara kota Serang. Berjarak hanya 300 m dari Masjid Agung Banten. Berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 778 meter persegi, MSKBL diban-guan demi dua misi.

Pertama, tempat menyimpan benda cagar budaya bergerak (moveable artifact) hasil penelitian yang berasal dari situs Banten lama dan sekitarnya. Kedua, sebagai media atau sarana yang bersifat rekreatif ilmu pengetahuan dan sebagai sumber inspirasi.
Dilihat dari jenisnya, koleksi benda-benda sejarah didalam MSKBL bisa diklasifikasikan ke dalam lima kelompok.

Pertama, arke-ologika atau benda-benda yang mengandung nilai arkeologi, seperti arca Nandi, in.dimin, gerabah, atap, lesung batu dan lain sebagainya.

Kedua, numismatika, berupa koleksi mata uang, baik mata uang asing maupun mata uang yang dicetak oleh masyarakat Banten.-Mata uang yang pernah dipakai sebagai alat tukar yang sah dalam transaksi jual beli ketika itu adalah caxa/cash, mata uang VOC, mata uang Lnggris, tael dan mata uang Banten sendiri. Bahkan, di salah satu ruangan, masih tersimpan mesin pencetak uang Oridab (Oeang Republik Indonesia Daerah Banten), yang digunakan selama masa pergerakan kemerdekaan.

Ketiga, etnografika, berupa koleksi miniatur rumah adat suku Baduy, berbagai macam senjata tradisional, dan peninggalan kolonial seperti tombak, keris, golok, peluru meriam, pedang, pistol, dan meriam. Ada juga koleksi pakaian adat dari masa kesultanan Banten, kotak peti perhiasan dan alat-alat pertunjukkan kesenian debus.

Keempat, keramologika, berupa temuan-temuan keramik, baik itu keramik lokal maupun keramik asing. Keramik asing berasal dari Birma, Vietnam, Cina, Jepang, Timur Tengah, dan Eropa. Masing-masing keramik memiliki ciri-ciri khas sendiri. Keramik lokal lebih dikenal sebagai gerabah yang diproduksi dan berkembang di Banten. Gerabah tersebut biasa digunakan sebagai alat rumah tangga, bahan bangunan, serta wadah pelebur logam yang biasa disebut dengan istilah qowi.

Kelima, seni rupa, berupa hasil reproduksi lukisan atau sketsa yang menggambarkan aktivitas masyarakat di Banten masa itu. Di antaranya yang terkenal adalah lukisan peta yang menggambarkan posisi Kesultanan Banten pada abad ke-17. Terdapat pula reproduksi lukisan duta besar Kerajaan Banten untuk Kerajaan Inggris, yakni Kyai Ngabehi Naya Wirapraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana yang berkunjung ke Inggris pada tahun 1682. Reproduksi kartografi Banten in European Perspective, lukisan-lukisan yang menggambarkan suasana di Tasikardi dan diorama latihan perang prajurit Banten.

Tentu saja, selain benda-benda bersejarah yang terdapat di bagian dalam museum, MSKBL masih menyimpan artefak di luar ruangan danjustru menjadi objek yang lebih populer di kalangan pengunjung. Yakni meriam Ki Amuk yang menempati lokasi di sudut kanan museum. Meriam yang berusia lebih dari empat ratus tahun itu beratnya mencapai tujuh, ton dan panjang sekitar 2,5 meter. Konon-karena belum ada penelitian ilmiahnya-Ki Amuk punya kembaran yang bernama Ki Jagur yang sekarang sekarang berada di Museum Fatahillah Jakarta.

Persis di depan Ki Amuk atau di samping kanan MSKBL, terdapat sebuah artefak bekas penggilingan lada yang terbuat dari batu padas yang sudah tak utuh lagi. Konon, mesin penggiling lada inilah yang menjadikan Banten sukses sebagai pengekspor ladat terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Aceh.

Sumber: (Muhtar I.T./"PR")